NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Balai TN Komodo Bentuk Kelompok Warga Peduli Sampah

Balai Taman Nasional Komodo membentuk kelompok Masyarakat Peduli Sampah (MPS) di Desa Komodo, Papagarang, dan Pasir Panjang.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 3 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca.
Foto arsip: Pulau Padar adalah pulau ketiga terbesar di kawasan Taman Nasional Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. · Foto: Azisrif / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Labuan Bajo — Balai Taman Nasional Komodo membentuk kelompok Masyarakat Peduli Sampah (MPS) yang melibatkan warga dari Desa Komodo, Papagarang, dan Pasir Panjang untuk menangani sampah di permukiman dan lokasi wisata dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

Menurut keterangan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, MPS dibentuk sebagai salah satu skema penanganan sampah di Taman Nasional Komodo selain aksi bersih sampah bersama mitra di kawasan tersebut. Kelompok MPS di tiga desa itu bertanggung jawab mengumpulkan sampah di desa dan titik-titik wisata terdekat.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebelumnya menyebut penanganan sampah di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo menjadi fokus utama untuk mendukung pariwisata. Penanganan dilakukan melalui kampanye publik, aksi bersih-bersih, dan pengembangan pola pengelolaan sampah yang melibatkan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat seperti MPS.

Penanganan sampah di desa dan lokasi wisata

Dalam penjelasan Direktorat Jenderal KSDAE, kelompok MPS di Desa Komodo bertanggung jawab terhadap sampah di Kampung Komodo, Loh Liang, Pantai Merah, dan Gili Lawa Darat. MPS di Desa Pasir Panjang melayani Kampung Rinca, Kampung Kerora, Loh Buaya, Pulau Kambing, Pulau Pempe, dan wilayah pantai di sekitarnya. Kelompok MPS Papagarang menangani sampah di Padar Selatan, Kampung Papagarang, dan pulau-pulau terdekat.

Pada Maret 2018, MPS Taman Nasional Komodo mengumpulkan sedikitnya 209 karung sampah dari sejumlah titik di dalam kawasan taman nasional, dengan berat rata-rata 10 kilogram per karung atau sekitar 2 ton. Sampah tersebut dikirim ke Koperasi Serba Usaha Sampah Komodo di Labuan Bajo untuk diproses lebih lanjut.

Menurut laporan WWF Indonesia, dokumen rencana pengelolaan sampah di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo disusun oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat dan Balai Taman Nasional Komodo dengan dukungan WWF Indonesia sejak 2016. Kajian tersebut menemukan rata-rata timbulan sampah dari area permukiman dalam kawasan Taman Nasional Komodo sebesar 12 meter kubik per hari atau sekitar 0,7 ton per hari, sedangkan sampah dari kawasan wisata sekitar 0,2 meter kubik per hari atau 0,01 ton per hari.

Kampanye persampahan dukung pariwisata Komodo

Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa pada 2018 sedikitnya terdapat sembilan kegiatan aksi bersih dan kampanye publik yang dijalankan di Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo mulai Februari hingga Oktober. Kegiatan tersebut melibatkan pemerintah pusat dan daerah, lembaga swadaya masyarakat, MPS, pelaku wisata, pelaku usaha, pelajar, dan berbagai komunitas.

Balai Taman Nasional Komodo dan WWF Indonesia juga mendorong partisipasi masyarakat melalui pelatihan pengelolaan sampah dan edukasi pengurangan sampah dari sumbernya. Dokumen pengelolaan sampah merekomendasikan investasi infrastruktur persampahan, penambahan tempat pengolahan sampah terpadu, pemisahan fungsi regulator dan operator, penegakan peraturan pemilahan sampah, serta penerapan tempat pengolahan akhir dengan sistem sanitary landfill.

Upaya tersebut dikaitkan dengan kebutuhan menjaga kualitas lingkungan di habitat komodo (Varanus komodoensis) sekaligus mendukung kenyamanan wisatawan dan aktivitas masyarakat di sekitar destinasi. Sampah dari kawasan taman nasional dan Labuan Bajo pada 2016 diperkirakan mencapai sekitar 13 ton per hari, dengan sumber utama dari permukiman, restoran, dan jalan. Karena itu, pengelolaan sampah berbasis komunitas dan pelibatan warga melalui kelompok seperti MPS menjadi salah satu langkah yang dikembangkan.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.