Difabel Armin Buka Balai Belajar Bahasa Inggris di GKS Weerame
Pada November 2022, Gereja Kristen Sumba Weerame di Wewewa Timur memberi ruang kepada Sukarmini Bulu, atau Armin, seorang difabel, untuk membimbing anak-anak belajar Bahasa Inggris.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 4 menit baca
Wewewa Timur — — Sebanyak 31 anak di lingkungan Gereja Kristen Sumba (GKS) Weerame, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, mengikuti kelompok belajar Bahasa Inggris yang dibimbing Sukarmini Bulu, atau Armin, seorang difabel berusia sekitar 21 tahun. Kegiatan ini berlangsung pada November 2022 dan digagas Armin dengan dukungan keluarga, gereja, dan Yayasan Harapan Sumba (YHS).
Kisah Armin dan kelompok belajar Bahasa Inggris ini pertama kali dipublikasikan Yayasan Harapan Sumba lewat laporan berjudul “Gereja Buka Ruang untuk Difabel Tampil dan Berkarya” di situs Project Hope Sumba. Menurut laporan tersebut, GKS Weerame mulai membuka ruang bagi pengembangan diri difabel dengan mempercayai Armin membimbing anak-anak di desa, khususnya anak Program Peduli Anak (PPA), belajar Bahasa Inggris.
Pada 7 November 2022, pendeta, orang tua, anak-anak, Armin, dan pendamping dari YHS mengadakan pertemuan awal untuk membahas rencana kegiatan. Dalam pertemuan itu, Armin mendapat kesempatan menjelaskan cara mengajar yang ingin digunakan serta usul evaluasi berkala setiap dua bulan, menurut Project Hope Sumba.
Armin juga mengusulkan pembentukan grup WhatsApp agar penyampaian laporan kegiatan kepada pendeta dan pendamping lebih mudah. Anak-anak kemudian menyepakati nama “Balai Belajar Bahasa Inggris” sebagai identitas kelompok belajar mereka.
Berawal dari gagasan Armin
Menurut Pdt. Ari Molla, salah satu pendeta di GKS Weerame, gagasan mengajar anak-anak datang dari Armin sendiri. Laporan Project Hope Sumba menyebut gereja kemudian memperkuat inisiatif itu dengan menyediakan ruang di lingkungan gereja bagi Armin untuk berkarya.
“Armin menjadi motor penggerak untuk orang-orang di sini,” kata Ari, dikutip Project Hope Sumba. Ia berharap Armin dapat menjadi salah satu tokoh di desa yang membagikan kemampuan dan pengalaman yang dimilikinya kepada anak-anak di sekitar gereja.
Jumlah anak yang terlibat dalam kegiatan ini bertambah dari 25 anak pada 14 November 2022 menjadi 31 anak pada 28 November 2022. Pertambahan peserta dipandang sebagai tanda bahwa kegiatan tersebut mendapat respons positif dari anak-anak, sekaligus menunjukkan kepercayaan orang tua terhadap kemampuan Armin sebagai pendamping belajar, meski Armin tidak menempuh pendidikan formal.
Dukungan keluarga, gereja, dan yayasan
Dalam laporan yang sama, Ari menilai dukungan keluarga Armin sebagai faktor penting. Armin disebut menerima kasih sayang dan perlakuan setara di rumah, sehingga ia tidak terisolasi dari lingkungan sosialnya.
Selain keluarga, YHS sebagai pengelola Project Hope Sumba tercatat memberi pendampingan kepada Armin dan gereja dalam merancang dan menjalankan kegiatan. Yayasan ini sejak lama bekerja di bidang kesehatan, disabilitas, dan pendidikan di Sumba, termasuk pendataan, pelatihan, pendampingan, dan penguatan komunitas rehabilitasi berbasis masyarakat.
Bagi GKS Weerame, pelibatan Armin sebagai pengajar merupakan langkah baru. Ari mengungkapkan bahwa sebelum ini pelayanan kepada jemaat difabel di gereja masih berupa pelayanan umum, belum ada kegiatan khusus yang dirancang untuk melibatkan mereka secara aktif dalam pelayanan dan aktivitas gereja.
Ari menyatakan gereja semestinya menjadi “rumah nyaman untuk kaum difabel”. Gagasan itu sejalan dengan pandangan gereja-gereja di Sumba yang menempatkan pelayanan di tengah kehidupan sosial dan ekonomi jemaat, termasuk kelompok rentan, menurut penjelasan tentang Gereja Kristen Sumba dalam dokumen lembaga gerejawi nasional.
Dampak awal di desa
Project Hope Sumba mencatat beberapa dampak awal dari program ini. Di tingkat anak-anak, semakin banyak peserta yang bergabung dalam Balai Belajar Bahasa Inggris menunjukkan minat belajar Bahasa Inggris di lingkungan gereja.
Di tingkat keluarga, laporan tersebut menyoroti meningkatnya pengakuan dan kepercayaan orang tua kepada Armin sebagai pengajar. Program ini juga memberi ruang bagi Armin untuk menjalankan gagasan sendiri di tengah komunitas, sekaligus menjadi contoh bahwa difabel dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar-mengajar di desa.
Di tingkat gereja, pelibatan Armin menjadi salah satu langkah awal GKS Weerame dalam mengembangkan pelayanan yang lebih inklusif bagi jemaat difabel. Pendekatan ini sejalan dengan dorongan lembaga-lembaga gerejawi di Indonesia agar gereja memberi kesempatan yang sama bagi difabel untuk terlibat dalam kegiatan liturgi dan sosial gereja, bukan hanya sebagai penerima layanan.
Linimasa singkat kegiatan
- 7 November 2022: Pertemuan awal pendeta, keluarga, anak-anak, Armin, dan pendamping YHS untuk membahas rencana kelompok belajar Bahasa Inggris.
- 14 November 2022: Pendaftaran awal peserta, tercatat 25 anak.
- 28 November 2022: Peserta Balai Belajar Bahasa Inggris bertambah menjadi 31 anak.
- Nama kelompok disepakati sebagai “Balai Belajar Bahasa Inggris”, berlokasi di lingkungan GKS Weerame, Wewewa Timur.
Sumber
Berita berikutnya
RSUD Waikabubak, Rumah Sakit Kelas C Rujukan Tiga Kabupaten
RSUD Waikabubak di Sumba Barat merupakan rumah sakit umum daerah kelas C milik Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan menjadi rujukan bagi masyarakat Su…
Baca juga




