NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Festival Fulan Fehan IV Libatkan Ribuan Penari Muda Belu

Festival Fulan Fehan IV di Belu, Nusa Tenggara Timur, melibatkan ribuan penari muda dalam rangkaian atraksi adat, parade tenun, dan tari Likurai kolosal.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Bottles of Belu mineral water.
Foto arsip: Bottles of Belu mineral water. · Foto: Beluwater / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

AtambuaFestival Fulan Fehan IV resmi berakhir di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, pada akhir Agustus 2026. Keterlibatan ribuan penari muda dinilai memberi pengalaman langsung bagi generasi penerus untuk mengenal dan menampilkan kesenian tradisional Belu, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah.

Dalam laporan lembaga penyiaran publik RRI, pelatih tari Festival Fulan Fehan, Riny Ratu Dabbo, menyebut keterlibatan para penari tidak sebatas tampil di atas panggung. Menurut dia, proses mengikuti festival membuat penari muda merasakan langsung bagaimana membawa kesenian daerah di hadapan masyarakat dan memperkuat pemahaman mereka terhadap budaya Belu.

RRI mencatat keterlibatan ribuan penari muda dalam perhelatan tahun ini, meski tanpa menyebut angka rinci maupun sebaran peserta berdasarkan usia dan asal wilayah. Dalam laporan lain, pemerintah Kabupaten Belu menyebut sebanyak 3.800 penari Likurai akan tampil secara kolosal di padang savana Fulan Fehan pada puncak Festival Fulan Fehan ke-4.

Pengalaman penari dan pelestarian budaya

Menurut Riny, pengalaman mengikuti festival menjadi bekal bagi penari muda untuk terus mengenal budaya Belu dan menceritakan kembali kekayaan budaya daerah kepada lingkungan sekitar. Ia menilai muncul rasa bangga setelah para penari mengambil bagian dalam festival dan berharap mereka dapat menjadi generasi yang menjadi pelopor kebudayaan.

Dalam wawancara dengan RRI, Riny menyebut para penari memiliki “kebanggaan tersendiri” karena ikut menjaga budaya mereka. Ia berharap pengalaman selama Festival Fulan Fehan IV tetap melekat setelah acara berakhir dan kecintaan terhadap Likurai serta kesenian tradisional Belu terus tumbuh dalam kehidupan mereka.

Riny mendorong anak muda untuk tidak ragu menampilkan sejumlah tarian daerah, seperti Likurai, Hatsoke, Bidu Kikit, dan Antama, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di panggung pertunjukan. Dorongan itu menegaskan bahwa keberlanjutan budaya tidak hanya bergantung pada penyelenggaraan festival, tetapi juga pada praktik keseharian dan kesediaan generasi muda untuk terus menampilkan kesenian tradisional.

Ruang bagi generasi muda dan rangkaian festival

Festival Fulan Fehan IV digelar selama tiga hari dan disebut sebagai pesta rakyat yang memadukan ritual adat, pesona tenun, dan pertunjukan kolosal budaya Belu. Rangkaian acara dimulai dengan kegiatan adat Ukn Naran Bunaq di Kampung Adat Duarato, dilanjutkan dengan agenda “Exotic Tenun by Dekranasda Belu” di pelataran Mal Pelayanan Publik Atambua, dan berpuncak pada penampilan tari Likurai kolosal di padang Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen.

Pemerintah Kabupaten Belu menyatakan festival ini melibatkan tiga kabupaten di perbatasan, yakni Timor Tengah Utara, Malaka, dan Belu, serta pemerintah Timor Leste. Pada puncak acara, sebanyak 3.800 penari Likurai dijadwalkan tampil serempak di padang Fulan Fehan sebagai bagian dari pertunjukan kolosal.

Selain atraksi tari, rangkaian festival juga memuat parade tenun dan kostum unik yang diikuti peserta dari berbagai jenjang pendidikan, instansi pemerintah, serta komunitas. Pemerintah daerah menyebut acara tersebut berhasil menyedot perhatian ribuan warga sejak sore hingga malam hari.

Harapan keberlanjutan dan dampak ekonomi

Dalam penjelasian yang dikutip RRI, Riny berharap Festival Fulan Fehan dapat terus dilaksanakan secara berkala agar generasi muda memiliki ruang untuk mengenal dan mencintai budaya daerahnya. Ia mendorong generasi muda agar terus berkarya dan melahirkan inovasi baru tanpa mengikis nilai-nilai luhur yang melekat pada kesenian Belu.

Laporan RRI dan pemerintah Kabupaten Belu sama-sama menyoroti peran generasi muda sebagai unsur penting dalam keberlanjutan budaya Belu. Namun, kedua sumber belum memuat data rinci mengenai jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang terlibat, nilai transaksi, atau pendapatan masyarakat selama festival.

Informasi mengenai dampak ekonomi lokal dan model pendanaan festival belum dipaparkan dalam rilis resmi maupun laporan media yang tersedia. Evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Festival Fulan Fehan IV, termasuk dukungan bagi kelompok seni, keterlibatan sekolah atau komunitas, serta manfaat ekonomi bagi warga, masih menunggu kajian lebih lanjut dari pemerintah daerah dan panitia.

Meski demikian, dari rangkaian kegiatan dan pernyataan para pelaku seni, Festival Fulan Fehan IV tampak dimaknai sebagai ruang perjumpaan budaya di perbatasan sekaligus medium pendidikan bagi generasi muda untuk menghayati dan merawat identitas budaya Belu.

Sumber

Berita berikutnya

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.