NTT Hari Ini

Senin, 21 September 2026

Investasi Tebu PT MSM dan Status Baru Sumba Timur di NTT

PT Muria Sumba Manis menginvestasikan Rp9,2 triliun untuk mengembangkan kebun tebu dan pabrik gula modern di Sumba Timur.

Oleh

Editor: Mursyid Sonsang

· Peristiwa: · 4 menit baca

Buka foto ukuran besar. Foto arsip: Napu Valley in East Sumba, Indonesia.
Foto arsip: Napu Valley in East Sumba, Indonesia. · Foto: 06Ivonne / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Waingapu — Pengembangan perkebunan tebu dan pabrik gula PT Muria Sumba Manis (MSM) dikaitkan dengan perubahan ekonomi Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, yang kini resmi keluar dari kategori daerah tertinggal berdasarkan keputusan pemerintah pusat.

PT MSM merupakan perusahaan agribisnis di bawah PT Hartono Plantation Indonesia (HPI Agro) atau Grup Djarum yang mengembangkan perkebunan tebu dan pabrik gula terintegrasi di Kabupaten Sumba Timur. Pabrik gula modern tersebut berlokasi di kawasan lahan kering semi-arid dengan tanah berkapur dan berbatu, antara lain di Kecamatan Umalulu dan sekitarnya.

Menurut laporan media ekonomi lokal dan nasional, nilai investasi Grup Djarum melalui PT MSM di Sumba Timur mencapai sekitar Rp9,2 triliun dengan luasan lahan yang dikembangkan sekitar 20 ribu hektare menggunakan skema hak guna pakai selama 30 tahun. Pabrik gula MSM disebut sebagai pabrik gula modern pertama di NTT dengan kapasitas pengolahan sekitar 12.000 tons cane per day (TCD) atau 12.000 ton tebu per hari.

Media bisnis nasional memberitakan bahwa pembangunan pabrik dimulai pada 2018 dan fasilitas terintegrasi itu mulai beroperasi penuh pada 2020. Selama musim panen sekitar pertengahan Juli hingga pertengahan Oktober, pabrik diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1.200 ton gula kristal putih dan gula kristal rafinasi per hari, berdasarkan paparan perusahaan yang dikutip media.

Produksi gula dan target perluasan kebun

Dalam laporan media daerah, PT MSM telah mengembangkan kebun tebu seluas kurang lebih 4.400 hektare dan mengoperasikan pabrik dengan kapasitas produksi sekitar 600 ton gula per hari. Pengembangan kebun dilakukan di kawasan lahan kering dan transmigrasi di Sumba Timur untuk mendukung kebutuhan bahan baku pabrik.

Media ekonomi dan agribisnis menyebutkan bahwa perusahaan menargetkan perluasan penanaman tebu hingga sekitar 10 ribu hektare pada 2031, seiring dengan pengembangan kapasitas pabrik dan dukungan infrastruktur di Pulau Sumba. Pabrik menggunakan sistem kendali otomatis dan unit dekolorisasi untuk menghasilkan gula yang menyasar pasar industri atau business-to-business (B2B).

Sumba Timur keluar dari kategori daerah tertinggal

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menetapkan Kabupaten Sumba Timur keluar dari kategori daerah tertinggal melalui Keputusan Menteri Desa PDTT Nomor 490 Tahun 2024 tentang Kabupaten Daerah Tertinggal yang Terentaskan Tahun 2020–2024. Keputusan tersebut bertanggal 2 September 2024 dan mencantumkan Sumba Timur bersama sejumlah kabupaten lain di NTT sebagai daerah yang terentaskan dari status tertinggal.

Dalam kunjungan kerja ke Sumba Timur pada April 2025, Gubernur NTT mengapresiasi kontribusi PT MSM yang dinilai turut mendukung kabupaten itu keluar dari kategori daerah tertinggal, sebagaimana diberitakan media lokal. Pemerintah pusat melalui Kemendes PDTT tetap memberikan pembinaan lanjutan maksimal tiga tahun bagi kabupaten yang baru terentaskan, termasuk Sumba Timur.

Pendidikan dan pemberdayaan masyarakat

Sejumlah laporan media menjelaskan bahwa dampak investasi tebu tidak hanya pada produksi gula, tetapi juga pada pendidikan dan sosial ekonomi warga. PT MSM menjalankan berbagai program pemberdayaan desa dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui inisiatif bernama Hijau Manise di Desa Patawang, Kecamatan Umalulu.

Program Hijau Manise berfokus pada pengembangan agrowisata, konservasi lingkungan, peningkatan pendapatan masyarakat, dan dukungan bagi UMKM lokal. Kehadiran agrowisata Patawang disebut menjadikan desa tersebut sebagai destinasi edukasi dan wisata yang mendorong ekonomi lokal melalui kegiatan wisata dan usaha kecil di sekitar kawasan.

Atas pelaksanaan program Hijau Manise dan pembangunan desa berkelanjutan, PT MSM meraih Gold Award dalam ajang CSR & Pengembangan Desa Berkelanjutan Awards 2025 yang diselenggarakan Kemendes PDTT bekerja sama dengan Indonesia Social Sustainability Forum (ISSF). Penghargaan itu diserahkan kepada Komisaris MSM Raphael R. Susanto pada acara di Jakarta.

Meski berbagai program CSR dan investasi telah diberitakan, media yang sama belum memerinci secara kuantitatif perubahan pendapatan warga, jumlah tenaga kerja lokal yang terserap, atau kontribusi langsung terhadap pendapatan daerah. Data resmi mengenai indikator sosial ekonomi tersebut masih menunggu publikasi rinci dari pemerintah dan perusahaan.

Sumber

Berita berikutnya

Penjualan Beras Kupang Emas Tembus 128 Ton

Penjualan beras lokal Kupang Emas yang diproduksi CV SPM dilaporkan mencapai sekitar 128 ton dalam beberapa bulan terakhir, melampaui target awal 60–8…

Baca juga

‹ Kembali ke beranda

Bagikan artikel

Bagikan sebagai gambar

Untuk Story Instagram, Status WhatsApp, atau TikTok. Tautan artikel ikut disalin supaya bisa ditempel di stiker Tautan.

Pratinjau kartu Story / Status untuk artikel ini
Story / Status · 9:16
Simpan gambar
Pratinjau kartu Feed untuk artikel ini
Feed · 4:5
Simpan gambar

Alat baca

Normal

Contoh ukuran teks isi artikel. Pilihan ini tersimpan di perangkat Anda.