Lembata Targetkan 2.000 Hektare untuk Investasi Jambu Mete
Pemkab Lembata menargetkan 2.000 hektare lahan untuk investasi jambu mete, sekaligus menyiapkan peremajaan dan integrasi dengan kopi serta kakao. Pemetaan lahan oleh Tigate Trees Indonesia dijadwalkan mulai 3 September 2026.
Oleh Pandi Muktar
Editor: Mursyid Sonsang
· Peristiwa: · 2 menit baca
Lewoleba — Pemerintah Kabupaten Lembata menargetkan sedikitnya 2.000 hektare lahan untuk mendukung investasi pengembangan jambu mete. Rencana itu dibahas dalam rapat koordinasi program strategis Kementerian Pertanian tingkat kabupaten di Aula Kantor Lurah Lewoleba Timur, Senin, 31 Agustus 2026.
Rapat dipimpin Bupati Lembata Kanisius Tuaq dan dihadiri penyuluh pertanian, Kepala Bappelitbangda, serta Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Lembata, menurut laporan RRI dan Media NTT. Forum tersebut digunakan untuk mengevaluasi program pertanian dan memetakan persoalan di daerah.
Dalam rapat itu, pemerintah daerah juga mendorong peremajaan jambu mete. Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian Lembata, Lino Marques Cabral, menyebut pembahasan mencakup perluasan dan peremajaan jambu mete, kakao, serta kopi robusta, sedangkan Bupati Kanisius meminta laporan disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan.
Kawasan investasi
Pemerintah kabupaten menyiapkan kawasan untuk pengembangan dan hilirisasi jambu mete yang akan diintegrasikan dengan kopi dan kakao. Sejumlah lokasi yang disebut dalam pembahasan itu ialah Ile Boli, Bolibean, Wuakerong, Duawutun, Ria Bao, Babokerong, Baobolak, dan Pasir Putih.
Perusahaan Tigate Trees Indonesia dijadwalkan mulai memetakan lahan pada 3 September 2026, menurut laporan RRI dan Media NTT. Pemkab Lembata menargetkan paling sedikit 2.000 hektare lahan sebagai syarat agar rencana investasi dapat berlanjut.
Bupati meminta penyuluh pertanian mendampingi masyarakat agar potensi lahan dapat dimanfaatkan secara optimal. Pendampingan itu, menurut laporan yang sama, dipandang penting karena rencana investasi dikaitkan dengan peremajaan tanaman dan penguatan produksi.
Dalam rapat yang sama, pemerintah juga menyampaikan uji coba pola tanam jagung dua kali dalam satu musim pada lahan kering seluas 10 hektare di Desa Paubokol. Agenda itu menunjukkan rapat tidak hanya membahas investasi perkebunan, tetapi juga evaluasi program pertanian dan pangan.
Rencana pengembangan jambu mete di Lembata bertumpu pada hasil pemetaan lahan dan kesiapan kawasan investasi. Pemerintah daerah belum menjelaskan rincian status penguasaan tanah, skema kerja sama, maupun pembagian peran antara perusahaan, petani, dan pemerintah dalam laporan yang telah terbit.
Sumber
Berita berikutnya

Penjualan Beras Kupang Emas Tembus 128 Ton
Penjualan beras lokal Kupang Emas yang diproduksi CV SPM dilaporkan mencapai sekitar 128 ton dalam beberapa bulan terakhir, melampaui target awal 60–8…
Baca juga




