Mengapa Kemiskinan NTT Turun, tetapi Kesenjangan Desa-Kota Tetap Lebar?
Kemiskinan NTT turun menjadi 17,50 persen pada September 2025. Namun angka perdesaan masih 21,48 persen, hampir tiga kali angka perkotaan yang 6,96 persen.
Oleh Pandi Muktar
· 2 menit baca
Angka kemiskinan Nusa Tenggara Timur turun pada September 2025, tetapi kesenjangan desa-kota tetap lebar. Badan Pusat Statistik mencatat persentase penduduk miskin sebesar 17,50 persen, sementara kemiskinan perdesaan mencapai 21,48 persen dan perkotaan 6,96 persen. Artinya, perbaikan agregat belum menghapus tekanan ekonomi di desa.
Berapa angka kemiskinan NTT?
Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 17,50 persen. Angka itu turun 1,10 poin persentase dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 18,60 persen, menurut BPS, 2025.
Jumlah penduduk miskin pada September 2025 mencapai sekitar 1,03 juta orang, menurut BPS sebagaimana diberitakan Media Indonesia pada 2026. Ukuran kemiskinan ini menunjukkan proporsi penduduk dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan.
Mengapa angka desa dan kota berbeda jauh?
Pada September 2025, persentase penduduk miskin di perdesaan mencapai 21,48 persen, sedangkan di perkotaan 6,96 persen, menurut BPS sebagaimana dikutip Media Indonesia, 2026. Selisih tersebut menunjukkan bahwa penurunan kemiskinan berlangsung dengan tingkat yang berbeda menurut wilayah.
Data BPS yang dirangkum Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur Mei 2025 juga mencatat rasio kemiskinan September 2024 sebesar 19,02 persen, turun dari 19,48 persen pada Maret 2024. Perbandingan ini menempatkan perubahan September 2025 dalam tren penurunan tahunan.
Apakah ekonomi NTT ikut tumbuh?
Bank Indonesia melaporkan ekonomi NTT tumbuh 4,55 persen secara tahunan pada triwulan I 2025, meningkat dari 3,03 persen pada triwulan sebelumnya. Laporan yang sama menyebut pertumbuhan itu didorong peningkatan kinerja lapangan usaha utama dan perbaikan neraca perdagangan, menurut Bank Indonesia, 2025.
Namun pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan adalah ukuran yang berbeda. Pertumbuhan menggambarkan perubahan kegiatan ekonomi, sedangkan angka kemiskinan menggambarkan penduduk yang pengeluarannya berada di bawah garis kemiskinan.
Apa arti data ini bagi kebijakan ekonomi?
Angka nasional provinsi perlu dibaca bersama pemisahan desa-kota. Dengan kemiskinan perdesaan sebesar 21,48 persen dan perkotaan 6,96 persen pada September 2025, data tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga perdesaan menjadi bagian penting dalam membaca hasil pembangunan NTT.
Bank Indonesia memprakirakan ekonomi NTT pada 2025 tumbuh dalam kisaran 3,60–4,40 persen secara tahunan dan inflasi berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen, menurut laporan Mei 2025. Proyeksi itu merupakan perkiraan, bukan hasil realisasi tahunan.
Sumber
Baca berikutnya
Lanjutan topik ini

Kepulauan
Rote Ndao Bahas Rencana Penanggulangan Kemiskinan 2026–2029
Pemerintah Kabupaten Rote Ndao membahas Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah 2026–2029 pada 21 Oktober 2026 dengan melibatkan 16 perangkat daerah…
Terbaru di Ekonomi

Berita utama hari ini

Baca juga





